Duduk kubersimpuh
kepada rabb azza wajalla, terdiam kumenatap mentari yang menerangi jagat
raya, kupandang wajahku di balik air jernih samudra kesatria sambil kumeratapi
hidupku yang harus berjalan di atas bara api penderiataan yang tak
kunjung hentinya ,,, bingung kutak tau entah harus bertindak seperti apa Ketika
hari Esok, orang yang slalu kuharapkan, orang yang slalu membuatku semangat
akan pergi meninggalkanku dari sekolah, meskipun ia tidak tau bahwa dia adalah
segalanya bagiku, saat kumelihat kemarin dia berbicara di depan kelasku sambil
meneteskan air mata sebagai pertemuan terakhirnya dengan kami, pada saat itu
kutak tau kuharus bagaimana mencegahnya, slain tertunduk dan menangis dan
berteriak dalam hati JANGAN, KUMOHON JANGAN, air matakupun menetes.
. yah,… saat dia keluar dari kelas kujuga ikut menyaksikan dia pergi tanpa
berbalik kepadaku, segera kutinggalkan arena sekolah dan berlari sejauh mungkin
berlawanan arah dengannya hingga kusampai di kamar kosan kecil tempatku
berteduh, kulentangkan sekujur tubuhku tak berdaya, kumerasa seluruh harapanku
tlah tiada, semangatku pun tlah mati, air mata yang mengalir deras membasahi
sekujur wajah lelahku yang bercampuran dengan keringat yang menetes. Walaupun
kusangat kehilangan Namun kutak putus asah, meskipun pada saat itu kubertambah
berubah, kenakalanku semakin membara, kemalasanku pun tak terkalahkan tak ada
satupun guru yang menyukaiku tanpa mereka sadari bahwa kuseperti ini karna
seseorang yang tlah tiada, tetap kulalui hariku dengan diam yang tertindas oleh
wajah merah membara bergantian mencaciku, dengan alasan yang kabur tak jelas. hanya
karna kunakal dan malas itu alasannya, tapi ibadahku blum berubah Do’aku pun tidak
goyang dan tak pernah putus agar orang itu kembali seperti dulu di sekolah itu,
setiap malam kubangun sendiri bersujud dan menangis memohon-mohon kepada Tuhan
agar dia senantiasa di kembalikan di sekolah itu.
Lelah
kumenanti pintaku kepada rabb yang belum terjawab, entah tertunda atau memang
tidak akan pernah terjawab ? hari demi hari
kulewati tanpanya dan yang menemaniku setiap saat di manapun aku berada hanya
selembar poto seseorang berbaju batik coklat keemasan, yang di hiasi peci
hitam, setiap detakan jantungku, kubuka lembaran demi lembaran kehidupan, kujalani
dengan hati yang penuh dengan rasa ingin melihatnya. Rindu yang sangat
kutakutkan rapu dan berubah menjadi dendam yang tersembunyi bagaikan titik
hitam buram di atas kertas putih suci abadi,,,!
Terkadang kuberfikir untuk
pindah kesekolah yang lain, karna kutak tahan dengan cacian, amarah, benci,
fitnah, dan perkataan yang orang menggoreskan luka hingga batinku. Tpi hatiku
slalu menahanku bahwa suatu saat dia akan kembali menemuimu di sekolah ini
lagi, karna memang kuslalu berdo’a dan berharap seperti itu maka kuputuskan
untuk tetap bertahan di dalam penderitaan itu. Setiap hari kubolos sekolah
karna kutak betah dengan suasana yang panas di penuhi dengan emosi atas masalah
yang sengaja kuperbuat maupun masalah yang berlalu di ungkit-ungkit kembali
yang membuatku tak pernah alpa masuk kedalam kantor kepala sekolah menerima
cacian yang tiada hentinya, tapi semuanya tetap saja kuhiraukan karna kutau
bahwa itulah salah satu cobaan yang harus kulalui agar do’aku atas kehadirannya
kembali di sekolah itu akan terkabulkan.
Rasa lelah yang tak mampu
kuhindari atas seluruh masalah dan beban fikiranku yang slalu ingin bertemu
dengannya, kuputuskan untuk tidak masuk sekolah selama 1 bulan penuh, semua
teman-teman, guru-guru dan sebagian besar orang di sekolah mempertanyakanku
entah kenapa apakah mereka rindu dengan wajah yang slalu mereka salahkan atau
entah kenapa mereka mencariku.
Karna kabar dan ancaman yang
silih berganti kudengar bahwa kukan di keluarkan dari sekolah kalau kutak
kembali hadir, maka kuikuti permintaan mereka agar ku hadir disekolah, beberapa
bulan kemudian rasa bahagia pun hadir dalam hatiku yang tlah lama di lilit rasa
rindu dan penantian yang tiada hentinya menemani hariku saat kudengar orang
yang kubangga-banggakan tlah memutuskan untuk hadir kembali bersama kami, tak
tahu kuharus berkata apa kepada tuhan sebagai tanda syukurku atas terkabulnya
do’aku dan menghapus goresan luka penantian yang tlah hampir membuatku kecewa
dan putus asa; hari esok kulalui dengan rasa semangat yang mengalir dalam
darahku di setiap langkahku menuju pertemuan pertamanya, saat dia memasuki
gerbang dengan motor berwarna hijau tua, dari jarak kejauhan lantai 2 sekolahku
kutatap wajahnya dalam-dalam saat ia turun dari kendaraannya meskipun ia tak
melihatku. Kurasakan segumpal sesuatu keluar dari sekujur tubuhku dan membuatku
kembali merasa tenang dan tentram di dalam arena sekolah, saat itu kumulai
bertambah yakin bahwa dia adalah benar-benar manusia yang mampu membuatku
merasa masih berarti hadir di dunia ini.
Hari demi hari kulalui dengan
semangat saat melihatnya, namun sedikit kumerasa heran dan merasa ada yang
berubah pada dirinya, perhatian dan sapaannya tlah tiada lagi dia berikan
kepadaku kecuali saat dia mengajar di kelasku itupun candaan, senyuman tlah
sangat jarang untukku entah kenapa dia berubah; apakah karna kehadiran sesosok
murid baru laki-laki di kelasku yang tlah merubah posisiku di matanya ???,
mungkin saja dia tidak menyadari bahwa sepata kata yang setiap pulang sekolah
kukirim melalui sms, yang kumaksud itu adalah dirinya. Hatiku menangis dan
merasa sedikit kecewa atas apa yang tlah ia lakukan, tapi tidak apa-apa mungkin
saja dia tidak sadar atas semuanya. Dengan sabar kumenjalani hari-hari yang
tiada perubahan, terkadang ku sedih tak dihiraukan olehnya, hal itu berlangsung
cukup lama dan suatu hari kuberjalan bersama seorang teman yang cukup lebih
dekat dengannya menuju toylet samping musollah, dia pas dari musollah
melaksanakan shalat dzuhur, saat kumelintas di hadapannya ia berbalik kepada
teman disampingku lalu tersenyum dan menyapanya lantas diriku seakan-akan tak
ada pada saat itu di hadapannya, sedikitpun dia tidak melirik ke arahku,
kuhanya tertunduk dan meneruskan perjalananku menuju toylet, tak kusadari air
mataku menetes secara perlahan, dalam hatiku berkata ‘salah apa lagi diriku ?
kenapa dia tidak pernah menghiraukanku lagi ??? ’. saat itu kumerasa kubukan
siapa-siapa lagi di matanya.
Dan hal yang paling menyakitkan
saat beberapa guru-guru menyebar fitnah tentangku, bahwa sayalah siswa yang
mempropokatori siswa yang lain untuk merusak nama baik sekolah bahkan mereka
menganggap bahwa saya adalah pelaku pembobolan facebook salah satu guru di
sekolah itu dan menjelek-jelekkan nama baik kepala sekolah melalui facebook
itu, kubersumpah di hadapan guru-guru bahwa bukan saya pelakunya, kumemohon
agar kasus tentangku ini di hentikan karna pada saat itu namaku tlah tersebar
satu sekolah bahwa sayalah pelakunya, kuberharap dia tidak tau soal kasus itu
dan apabila dia mengetahuinya dia mau berpihak kepadaku, tapi kusalah… air mata
mengalir deras saat ku mengetahui dari beberapa guru yang masih berpihak
kepadaku, bahwa dia juga befikiran sama seperti yang lain bahwa saya adalah
propokator atas semua kasus itu, tak tau kuharus menampilkan wajah seperti apa
di hadapan guru-guru itu, namun kujuga tak mampu menahan air mata ini menetes
atas sakit yang di rasakan hati ini tak dapat kuungkap lagi, rasanya kutak
mampu berbuat apa-apa lagi. Rasa bersalah yang sangat besar kepada ke tiga guru
yang kuanggap membenciku ternyata berpihak kepadaku, dan Rasa sakit karna
kecewa kepada guru yang kuharapkan mampu membelaku, guru yang kuhargai,
kuhormati dan kubanggakan, guru yang kuanggap sebagai ayahku sendiri, bahkan
lebih dari orang tua kandungku sendiri, berat rasanya membendung air mata di
sekitar kelopak mata yang cukup sempit atas hati yang meronta-ronta menjerit
kesakitan, kutak tau harus berkata apa lagi pada saat itu kumerasa tak ada lagi
tujuan yang pasti dalam perjalanan hidupku, yang ada hanya harapan yang tak
pasti, tak kupedulikan mata pelajaran apa pun itu di kelasku, dengan cepat
kumeninggalkan ruangan itu dan keluar dari gerbang pintu sekolah, ku berlari
tanpa henti di tengah derasnya hujan yang menghamburkan dirinya di jagad raya
sampai dadaku sesak sulit tuk bernafas hingga di kamar kosan kecil
berantakanku, dengan pintu terkunci kududuk terdiam menghayati betapa pahit
sakitnya hati ini, tak ragu lagi kumeneskan air mata di pipi yang cekung ini,
tubuhku menggigil di penuhi keringat dingin dan kelelahan yang tidak pernah
kurasakan sebelumnya, ingiiiiiiiin rasanya kumeneteskan darah yang mampu
membuatku tak berdaya tanpa denyut nadi dan nafas lagi di ragaku, ingin rasanya
kusegera kembali kepada Rabb yang telah menciptakanku, namun hatiku
menghentikanku dengan kata “semuanya biarlah terjadi, rasa sakit yang kualami
bukanlah akhir dari segalanya, seberapa kejam pun ia berbuat kepadaku, tapi
setidaknya kumasih bisa melihanya”
Tiada hentinya jeritan hati ini
kubawa memperjuang impianku untuk merasakan indahnya memiliki seorang dan
harapanku dia mampu mewujudkannya.
meskipun dia tidak lagi menghiraukanku, meskipun kumerasa bahwa diriku bagaikan
berdiri sendiri di padang pasir tanpa seorang pun yang menemaniku dan tanpa
setetespun air yang mampu membuatku merasa legah namun tak mengapa biarlah
semua ini kulalui, saya ikhlas kalau memang dengan menancapkan patok kepedihan
pada diriku itu yang mampu membuatnya bahagia, insya allah kuikhlas terus
seperti ini agar kumasih mampu melihat dia tersenyum dan bercanda walaupun dari
jarak kejauhan dan bersama orang lain.
Tak terasa dengan singkatnya
waktu, dari terbit dan terbenamnya sang surya yang begitu setia mengabdi dan
menerangi jagad raya ini, Tanggal 6 april 2014 tlah tiba, kumenantikan waktu
masuknya tanggal 17 april untuk mengucapkan selamat Ulang tahun kepadanya tak
peduli dingin yang menerobos kulitku, nyamuk yang mengemis-ngemis meminta
setetes darahku. Tepat jam 12.00 malam, denang penuh harapan secara perlahan
kuukirlah sederet kata yang sederhana pada ponselku dan mengirimkannya sebagai
ucapan selamat atas usianya yang kira-kira ke 36thn do’aku pada saat itu
untuknya, hanya beberapa permohonanku kepada Allah yaitu :
“ ya Rabb sang penguasa alam kumohon
panjangkan umurnya, mudahkan seluruh urusannya”
dan 1 doa sebagai
do’a harianku untuknya.
“ya Allah, hamba memohon kepadamu atas
bertambahnya umur ayah hamba yang ke-36thn
ini, meskipun dia tak pernah mau menganggapku tapi kumohon ya Rabb berikan dia
kebahagiaan yang tiada hentinya mengalir seperti air sungai yang mengalir
disurgamu ya Rabb, dan hamba mohon berikanlah kepada hamba seluruh kesulitan dan penderitaan yang mampu membuat
ayah hamba ini sakit seperti apa yang tlah hamba rasakan karna hamba tak ingin
dia merasakan pahitnya rasa sakit yang hamba tlah rasakan saat ini karnanya
yaRabb dan hamba mohon janganlah engkau menjauhkan hamba darinya karna hamba
tak mampu berbuat apa-apa tanpa ayah
hamba ini yaRabb”
Itulah salah satu
alasan mengapa terkadang kumerasa sangat takut untuk mengikuti ujian nasional
dan LULUS dari sekolah itu, karna kutakut jarang melihatnya lagi, seperti
saat-saat di sekolah walaupun kumampu bertemu dengannya hanya 3 kali dalam
seminggu dan hal yang sangat kutakutkan itu benar-benar terjadi sampai saat ini
kuhanya mampu hadir di depan sekolah menunggu hingga dia keluar dari gerbang
saat jam pulang sekolah meskipun dia tak penah melihatku tapi setidaknya
kumasih bisa melihatnya sebagai obat rindu yang tak pernah ia pedulikan karna
kujuga takut menemuinya langsung karna kumerasa dia masih marah terhadapku dan
akankah kumampu mendapat segenggam maaf darinya kembali….?