Demo Site

Senin, Agustus 18

Kisah menyakitkan pada saat Awi Caslan'd.E masih SMA


Duduk kubersimpuh kepada rabb azza wajalla, terdiam kumenatap mentari yang menerangi jagat raya, kupandang wajahku di balik air jernih samudra kesatria sambil kumeratapi hidupku yang harus berjalan di atas bara api penderiataan  yang tak kunjung hentinya ,,, bingung kutak tau entah harus bertindak seperti apa Ketika hari Esok, orang yang slalu kuharapkan, orang yang slalu membuatku semangat akan pergi meninggalkanku dari sekolah, meskipun ia tidak tau bahwa dia adalah segalanya bagiku, saat kumelihat kemarin dia berbicara di depan kelasku sambil meneteskan air mata sebagai pertemuan terakhirnya dengan kami, pada saat itu kutak tau kuharus bagaimana mencegahnya, slain tertunduk dan menangis dan berteriak dalam hati JANGAN, KUMOHON JANGAN, air matakupun menetes.
. yah,… saat dia keluar dari kelas kujuga ikut menyaksikan dia pergi tanpa berbalik kepadaku, segera kutinggalkan arena sekolah dan berlari sejauh mungkin berlawanan arah dengannya hingga kusampai di kamar kosan kecil tempatku berteduh, kulentangkan sekujur tubuhku tak berdaya, kumerasa seluruh harapanku tlah tiada, semangatku pun tlah mati, air mata yang mengalir deras membasahi sekujur wajah lelahku yang bercampuran dengan keringat yang menetes. Walaupun kusangat kehilangan Namun kutak putus asah, meskipun pada saat itu kubertambah berubah, kenakalanku semakin membara, kemalasanku pun tak terkalahkan tak ada satupun guru yang menyukaiku tanpa mereka sadari bahwa kuseperti ini karna seseorang yang tlah tiada, tetap kulalui hariku dengan diam yang tertindas oleh wajah merah membara bergantian mencaciku,  dengan alasan yang kabur tak jelas. hanya karna kunakal dan malas itu alasannya, tapi ibadahku blum berubah Do’aku pun tidak goyang dan tak pernah putus agar orang itu kembali seperti dulu di sekolah itu, setiap malam kubangun sendiri bersujud dan menangis memohon-mohon kepada Tuhan agar dia senantiasa di kembalikan di sekolah itu.
          Lelah kumenanti pintaku kepada rabb yang belum terjawab, entah tertunda atau memang tidak akan pernah terjawab ?  hari demi hari kulewati tanpanya dan yang menemaniku setiap saat di manapun aku berada hanya selembar poto seseorang berbaju batik coklat keemasan, yang di hiasi peci hitam, setiap detakan jantungku, kubuka lembaran demi lembaran kehidupan, kujalani dengan hati yang penuh dengan rasa ingin melihatnya. Rindu yang sangat kutakutkan rapu dan berubah menjadi dendam yang tersembunyi bagaikan titik hitam buram di atas kertas putih suci abadi,,,!
          Terkadang kuberfikir untuk pindah kesekolah yang lain, karna kutak tahan dengan cacian, amarah, benci, fitnah, dan perkataan yang orang menggoreskan luka hingga batinku. Tpi hatiku slalu menahanku bahwa suatu saat dia akan kembali menemuimu di sekolah ini lagi, karna memang kuslalu berdo’a dan berharap seperti itu maka kuputuskan untuk tetap bertahan di dalam penderitaan itu. Setiap hari kubolos sekolah karna kutak betah dengan suasana yang panas di penuhi dengan emosi atas masalah yang sengaja kuperbuat maupun masalah yang berlalu di ungkit-ungkit kembali yang membuatku tak pernah alpa masuk kedalam kantor kepala sekolah menerima cacian yang tiada hentinya, tapi semuanya tetap saja kuhiraukan karna kutau bahwa itulah salah satu cobaan yang harus kulalui agar do’aku atas kehadirannya kembali di sekolah itu akan terkabulkan.
          Rasa lelah yang tak mampu kuhindari atas seluruh masalah dan beban fikiranku yang slalu ingin bertemu dengannya, kuputuskan untuk tidak masuk sekolah selama 1 bulan penuh, semua teman-teman, guru-guru dan sebagian besar orang di sekolah mempertanyakanku entah kenapa apakah mereka rindu dengan wajah yang slalu mereka salahkan atau entah kenapa mereka mencariku.
          Karna kabar dan ancaman yang silih berganti kudengar bahwa kukan di keluarkan dari sekolah kalau kutak kembali hadir, maka kuikuti permintaan mereka agar ku hadir disekolah, beberapa bulan kemudian rasa bahagia pun hadir dalam hatiku yang tlah lama di lilit rasa rindu dan penantian yang tiada hentinya menemani hariku saat kudengar orang yang kubangga-banggakan tlah memutuskan untuk hadir kembali bersama kami, tak tahu kuharus berkata apa kepada tuhan sebagai tanda syukurku atas terkabulnya do’aku dan menghapus goresan luka penantian yang tlah hampir membuatku kecewa dan putus asa; hari esok kulalui dengan rasa semangat yang mengalir dalam darahku di setiap langkahku menuju pertemuan pertamanya, saat dia memasuki gerbang dengan motor berwarna hijau tua, dari jarak kejauhan lantai 2 sekolahku kutatap wajahnya dalam-dalam saat ia turun dari kendaraannya meskipun ia tak melihatku. Kurasakan segumpal sesuatu keluar dari sekujur tubuhku dan membuatku kembali merasa tenang dan tentram di dalam arena sekolah, saat itu kumulai bertambah yakin bahwa dia adalah benar-benar manusia yang mampu membuatku merasa masih berarti hadir di dunia ini.
         Hari demi hari kulalui dengan semangat saat melihatnya, namun sedikit kumerasa heran dan merasa ada yang berubah pada dirinya, perhatian dan sapaannya tlah tiada lagi dia berikan kepadaku kecuali saat dia mengajar di kelasku itupun candaan, senyuman tlah sangat jarang untukku entah kenapa dia berubah; apakah karna kehadiran sesosok murid baru laki-laki di kelasku yang tlah merubah posisiku di matanya ???, mungkin saja dia tidak menyadari bahwa sepata kata yang setiap pulang sekolah kukirim melalui sms, yang kumaksud itu adalah dirinya. Hatiku menangis dan merasa sedikit kecewa atas apa yang tlah ia lakukan, tapi tidak apa-apa mungkin saja dia tidak sadar atas semuanya. Dengan sabar kumenjalani hari-hari yang tiada perubahan, terkadang ku sedih tak dihiraukan olehnya, hal itu berlangsung cukup lama dan suatu hari kuberjalan bersama seorang teman yang cukup lebih dekat dengannya menuju toylet samping musollah, dia pas dari musollah melaksanakan shalat dzuhur, saat kumelintas di hadapannya ia berbalik kepada teman disampingku lalu tersenyum dan menyapanya lantas diriku seakan-akan tak ada pada saat itu di hadapannya, sedikitpun dia tidak melirik ke arahku, kuhanya tertunduk dan meneruskan perjalananku menuju toylet, tak kusadari air mataku menetes secara perlahan, dalam hatiku berkata ‘salah apa lagi diriku ? kenapa dia tidak pernah menghiraukanku lagi ??? ’. saat itu kumerasa kubukan siapa-siapa lagi di matanya.
          Dan hal yang paling menyakitkan saat beberapa guru-guru menyebar fitnah tentangku, bahwa sayalah siswa yang mempropokatori siswa yang lain untuk merusak nama baik sekolah bahkan mereka menganggap bahwa saya adalah pelaku pembobolan facebook salah satu guru di sekolah itu dan menjelek-jelekkan nama baik kepala sekolah melalui facebook itu, kubersumpah di hadapan guru-guru bahwa bukan saya pelakunya, kumemohon agar kasus tentangku ini di hentikan karna pada saat itu namaku tlah tersebar satu sekolah bahwa sayalah pelakunya, kuberharap dia tidak tau soal kasus itu dan apabila dia mengetahuinya dia mau berpihak kepadaku, tapi kusalah… air mata mengalir deras saat ku mengetahui dari beberapa guru yang masih berpihak kepadaku, bahwa dia juga befikiran sama seperti yang lain bahwa saya adalah propokator atas semua kasus itu, tak tau kuharus menampilkan wajah seperti apa di hadapan guru-guru itu, namun kujuga tak mampu menahan air mata ini menetes atas sakit yang di rasakan hati ini tak dapat kuungkap lagi, rasanya kutak mampu berbuat apa-apa lagi. Rasa bersalah yang sangat besar kepada ke tiga guru yang kuanggap membenciku ternyata berpihak kepadaku, dan Rasa sakit karna kecewa kepada guru yang kuharapkan mampu membelaku, guru yang kuhargai, kuhormati dan kubanggakan, guru yang kuanggap sebagai ayahku sendiri, bahkan lebih dari orang tua kandungku sendiri, berat rasanya membendung air mata di sekitar kelopak mata yang cukup sempit atas hati yang meronta-ronta menjerit kesakitan, kutak tau harus berkata apa lagi pada saat itu kumerasa tak ada lagi tujuan yang pasti dalam perjalanan hidupku, yang ada hanya harapan yang tak pasti, tak kupedulikan mata pelajaran apa pun itu di kelasku, dengan cepat kumeninggalkan ruangan itu dan keluar dari gerbang pintu sekolah, ku berlari tanpa henti di tengah derasnya hujan yang menghamburkan dirinya di jagad raya sampai dadaku sesak sulit tuk bernafas hingga di kamar kosan kecil berantakanku, dengan pintu terkunci kududuk terdiam menghayati betapa pahit sakitnya hati ini, tak ragu lagi kumeneskan air mata di pipi yang cekung ini, tubuhku menggigil di penuhi keringat dingin dan kelelahan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, ingiiiiiiiin rasanya kumeneteskan darah yang mampu membuatku tak berdaya tanpa denyut nadi dan nafas lagi di ragaku, ingin rasanya kusegera kembali kepada Rabb yang telah menciptakanku, namun hatiku menghentikanku dengan kata “semuanya biarlah terjadi, rasa sakit yang kualami bukanlah akhir dari segalanya, seberapa kejam pun ia berbuat kepadaku, tapi setidaknya kumasih bisa melihanya”
          Tiada hentinya jeritan hati ini kubawa memperjuang impianku untuk merasakan indahnya memiliki seorang dan harapanku dia mampu mewujudkannya.
meskipun dia tidak lagi menghiraukanku, meskipun kumerasa bahwa diriku bagaikan berdiri sendiri di padang pasir tanpa seorang pun yang menemaniku dan tanpa setetespun air yang mampu membuatku merasa legah namun tak mengapa biarlah semua ini kulalui, saya ikhlas kalau memang dengan menancapkan patok kepedihan pada diriku itu yang mampu membuatnya bahagia, insya allah kuikhlas terus seperti ini agar kumasih mampu melihat dia tersenyum dan bercanda walaupun dari jarak kejauhan dan bersama orang lain.
          Tak terasa dengan singkatnya waktu, dari terbit dan terbenamnya sang surya yang begitu setia mengabdi dan menerangi jagad raya ini, Tanggal 6 april 2014 tlah tiba, kumenantikan waktu masuknya tanggal 17 april untuk mengucapkan selamat Ulang tahun kepadanya tak peduli dingin yang menerobos kulitku, nyamuk yang mengemis-ngemis meminta setetes darahku. Tepat jam 12.00 malam, denang penuh harapan secara perlahan kuukirlah sederet kata yang sederhana pada ponselku dan mengirimkannya sebagai ucapan selamat atas usianya yang kira-kira ke 36thn do’aku pada saat itu untuknya, hanya beberapa permohonanku kepada Allah yaitu :
“ ya Rabb sang penguasa alam kumohon panjangkan umurnya, mudahkan seluruh urusannya”
dan 1 doa sebagai do’a harianku untuknya.
“ya Allah, hamba memohon kepadamu atas bertambahnya umur ayah hamba yang ke-36thn ini, meskipun dia tak pernah mau menganggapku tapi kumohon ya Rabb berikan dia kebahagiaan yang tiada hentinya mengalir seperti air sungai yang mengalir disurgamu ya Rabb, dan hamba mohon berikanlah kepada hamba seluruh  kesulitan dan penderitaan yang mampu membuat ayah hamba ini sakit seperti apa yang tlah hamba rasakan karna hamba tak ingin dia merasakan pahitnya rasa sakit yang hamba tlah rasakan saat ini karnanya yaRabb dan hamba mohon janganlah engkau menjauhkan hamba darinya karna hamba tak mampu berbuat apa-apa tanpa ayah hamba ini yaRabb”
Itulah salah satu alasan mengapa terkadang kumerasa sangat takut untuk mengikuti ujian nasional dan LULUS dari sekolah itu, karna kutakut jarang melihatnya lagi, seperti saat-saat di sekolah walaupun kumampu bertemu dengannya hanya 3 kali dalam seminggu dan hal yang sangat kutakutkan itu benar-benar terjadi sampai saat ini kuhanya mampu hadir di depan sekolah menunggu hingga dia keluar dari gerbang saat jam pulang sekolah meskipun dia tak penah melihatku tapi setidaknya kumasih bisa melihatnya sebagai obat rindu yang tak pernah ia pedulikan karna kujuga takut menemuinya langsung karna kumerasa dia masih marah terhadapku dan akankah kumampu mendapat segenggam maaf darinya kembali….?

10 komentar:

Anonim mengatakan...

sepahit itukah hidup yang engkau jalani dari SMA dan apakah sampai saat ini ??
siapa gerangan orang itu ? siapa itu Mr.E ? apakah engkau tak mampu untuk mencari yang lain ??? sy paham perasaanmu karna ku juga pernah merasakannya sampai saat ini dan tlah menjelang 12 thn...

Anonim mengatakan...

SabarlAh dan Terus berdo'a semOga dia Bisa paham Atas haraPanmu kepadanya, jangan berputus asah... dia akan menjadi papamu sesuai yang Engkau harapkan. sy juga pernah mengalaminya....
By: pembaca baru yang akan setia membaca seluruh tulisanmu ini.

Awi Caslan'd.E mengatakan...

terima kasih atas doa dan perhatiannya. klau boleh saya tau siapa anda sebenarnya cukup titip alamat FB anda terima kasih..

Anonim mengatakan...

tetap semangat dia akan mengerti atas semuanya nak...
andaikan sy adalah dirinya maka sy tidak akan menyia-nyiakan harapan dari anak sepertimu yang termasuk kuat menahan rasa sakit itu...

H. Surajab di jawa tengah

Anonim mengatakan...

Subhanallah hatimu terbuat dari apa ??
tetap kuat menganggap orang yang tak menganggapmu, betapa rugi dia mengabaikan anak sepertimu. sabar yaaah kami akan tetap mendoakanmu...
# teman fbmu
ibu' kartika di palopo

Anonim mengatakan...

hidup itu memang sulit nak, apalagi perasaan yang terabaikan, dlu sy prnah mengalami hal yang sama dgnmu tpi semuanya berakhir dgn penyesalan krn kumerubah perasaan itu menjadi dendam dan kumenyesal ketika ia akan menghembuskan nafas terakhirnya lalu menyebut namaku lalu berkata " nak ayah menyayangimu dan ayah menyesal menghiraukan perasaanmu itu, maafkn ayah..." pd saat itu kumulai sadar bahwa betapa sakit rasanya dan saat ini ank yang menganggapku ayahnya tdk ada yang kecewakan krn kumenghirauknnya
sabar yah...?
sudah berapa umurmu ?

dari. Drs.H.M.Malik di bandung..

Anonim mengatakan...

dia akan menyesalinya kawan.

. no name.

Anonim mengatakan...

maaf bisa saya posting tulisan anda di blog saya ?

Muhammad Sabran mengatakan...

Wah luarbisa perjuanganta dinda.Jadi terharu dan ingin meneteskan air mata

Saya bisa merasakan apa yang dinda ceritakan.

Bersabarlah
Karena kita punya Allah SWT yang Maha Melihat
yang akan memberikan kita kebahagian saat waktunya telah tiba.

Hidup kita ibarat Roda....
kadang dibawah (Susah) dan kadang diatas (Senang).
Maka bersabarlah semua ada akhirnya

Anonim mengatakan...

SUBHANALLAAAAAAH....Luar biasa.......!!!!!! menyesalnya itu nanti pastiii,,,,,
saBar ajha yahhh ??????

Posting Komentar